SENJA TERAKHIR DI ALHAMBRA: Runtuhnya Granada dan Berakhirnya Delapan Abad Kejayaan Islam di Andalusia

(0 User reviews)   110
By admin sriebook Posted on Sep 15, 2026
In Category - Novel
Rachman SDM 2026
427
Novel epik ini menghidupkan kembali detak jantung sebuah bangsa yang dipaksa memeluk kepalsuan di siang hari, namun bersujud mencuci sisa air baptis dalam kegelapan malam.
Beli Buku Rp225.000
Share

Agar bisa baca buku, silakan Masuk dulu!

Masuk

SENJA TERAKHIR DI ALHAMBRA:
Runtuhnya Granada dan Berakhirnya Delapan Abad Kejayaan Islam di Andalusia

427 halaman
Ukuran B5
Hardcover glosy

“Menangislah laksana seorang perempuan atas hilangnya sebuah kerajaan yang tidak sanggup kau pertahankan laksana seorang lelaki!”

— Aisha al-Hurra kepada Sultan Boabdil di Celah Bukit Padul, 1492

Tanggal 2 Januari 1492 bukanlah sebuah akhir; ia adalah gerbang menuju malam tergelap bagi kaum beriman di Semenanjung Iberia.

Tatkala salib perak ditegakkan di puncak menara Torre de la Vela dan kunci-kunci istana Alhambra diserahkan ke tangan Monarki Katolik, sebuah peradaban agung yang telah memahat surga di bumi Andalusia selama hampir delapan abad resmi bertekuk lutut.

Namun, penderitaan yang sesungguhnya baru saja bermula.

Janji-janji manis perlindungan dalam Traktat Kapitulasi dirobek tanpa ampun. Di bawah bayang-bayang jubah hitam Kardinal Cisneros dan teror Mahkamah Inkuisisi, puluhan ribu naskah ilmu pengetahuan dibakar di alun-alun Bivarrambla, masjid-masjid dirombak paksa, pakaian adat dilarang, dan bahasa Arab diharamkan di jalanan. Di hadapan ancaman tiang pancang, kening ratusan ribu jiwa dipercik air baptis paksa—melahirkan generasi manusia dengan luka batin terdalam: Kaum Morisco.

Melintasi rentang waktu seratus tiga puluh tahun (1481–1614), tragedi kemanusiaan ini disaksikan melalui mata tiga generasi keluarga penyalin naskah (warraq) di lereng terjal Albaicín:


•    Tariq bin Malik, sang juru tulis tua yang memilih mengubur mushaf-mushaf suci ke dalam perut bumi dan merintis aksara rahasia Aljamiado tatkala pedang para ksatria telah patah.

•    Youssef, sang pemuda barikade yang menolak menjadi domba sembelihan, memilih mengangkat senjata di puncak badai berdarah Pegunungan Alpujarras (1568).

•    Ziyad, generasi terdidik biara yang jiwanya terbelah di antara doktrin penguasa dan panggilan darah leluhurnya di sepanjang jalan salib pembuangan La Mancha hingga dermaga pengusiran massal 1609.

Novel epik ini menghidupkan kembali detak jantung sebuah bangsa yang dipaksa memeluk kepalsuan di siang hari, namun bersujud mencuci sisa air baptis dalam kegelapan malam.

Sebuah epos tentang luka, cinta, dan keteguhan kalam yang menolak padam di bawah reruntuhan zaman.

"Bukan Ferdinand dan Isabella pemenangnya, sebab takhta mereka telah lama menjadi debu museum. Pemenang sejatinya adalah kalimat yang terpahat abadi di dinding-dinding Alhambra: Wa la ghaliba illa Allah."

There are no reviews for this eBook.

0
0 out of 5 (0 User reviews )

Add a Review

Your Rating *
There are no comments for this eBook.
You must log in to post a comment.
Log in

Buku Terkait