POROS NAGA DAN MAHKOTA Geopolitik Cheng Ho, Saudagar Pesisir, dan Arsitektur Dakwah Walisongo di Tanah Jawa
Agar bisa baca buku, silakan Masuk dulu!
MasukPOROS NAGA DAN MAHKOTA
Geopolitik Cheng Ho, Saudagar Pesisir, dan Arsitektur Dakwah Walisongo di Tanah Jawa
Penulis: Abdurrachman Al Hakim
339 halaman, Ukuran B1 (17,6 x 25 cm), Hardcover Glossy
*Bagaimana Islamisasi di pulau Jawa terjadi?
Selama berabad-abad, sejarah peralihan peradaban di tanah Jawa kerap disederhanakan ke dalam dua kutub sempit: di satu sisi dibalut kabut dongeng kesaktian adiduniawi para pertapa kelana, di sisi lain dicurigai sebagai penaklukan militer berdarah yang memusnahkan kebudayaan leluhur.
Namun, arsip-arsip yang terkubur membantah kedua mitos tersebut.
Islamisasi Nusantara pada abad ke-15 bukanlah peristiwa spiritual individual yang berlangsung di sudut-sudut hutan sepi. Ia adalah sebuah lompatan institusional berskala kolosal—sebuah perjumpaan geopolitik tingkat tinggi yang mempertemukan diplomasi armada samudra, konsorsium modal niaga, teknologi mesiu, dan rekayasa darah biru dinasti.
Ketika Keraton Trowulan dan Galuh-Pakuan kian terlelap dalam ilusi feodal agraris berbasis upeti in-natura, fajar abad ke-15 membawa gelombang benteng terapung Dinasti Ming di bawah titah Laksamana Cheng Ho. Payung geopolitik sang laksamana membuka ruang hidup bagi jaringan kapitan dan syahbandar Muslim di bandar-bandar utara—mempertemukan emas dan porselen Tiongkok, sutra Asia Tengah, dan beras pedalaman dalam sebuah sirkuit ekonomi pasar yang mendominasi Laut Jawa.
Di atas fondasi material inilah, Majelis Walisongo bergerak bukan sebagai faksi pemberontak liar, melainkan sebagai dewan negarawan visioner. Mereka merajut ikatan darah bangsawan (high dynastic intermarriage) dengan keputren Brawijaya dan Siliwangi, mengambil alih hegemoni hukum melalui kompilasi Surya Alam, dan mendirikan benteng-benteng pertahanan teokratis di Ampeldenta dan Giri Kedaton.
Puncaknya, tatkala Kekaisaran Ming menutup diri dan menarik mundur armadanya dari pentas samudra dunia, peradaban pesisir Jawa tidak karam. Jaringan ulama dan adipati bahari ini telah cukup matang untuk berdiri di atas kaki sendiri—mencetak meriam cetbangnya sendiri, membangun armada kapal jung raksasa di Lasem, dan menantang balik ekspansi armada salib bangsa Barat di Selat Malaka dan muara Sunda Kelapa.
Ditulis dengan ketajaman analisis historiografi kritis berbasis sumber primer epigrafi, catatan musafir samudra, dan naskah-naskah babad pesisiran, "Poros Naga dan Mahkota" mengajak Anda menyelami babak paling menentukan dalam rahim sejarah Nusantara: membongkar bagaimana iman, modal, dan senjata berpadu meruntuhkan cakrawala lama dan melahirkan fajar kedaulatan maritim kepulauan ini.


